HOW TO: WHV Part 2 - Mengajukan Work and Holiday Visa Australia ke AVAC Jakarta

Sudah berhasil mendapatkan Surat Rekomendasi Pemerintah Indonesia (Letter of Government Support) dari pihak Imigrasi? Kalau sudah berhasil, saya akan jelaskan tahapan selanjutnya untuk mendapatkan Work and Holiday Visa Subclass 462. Namun bagi yang belum mengetahui tahap awal pembuatan visa ke Australia ini, sebaiknya baca terlebih dahulu bagian pertama permohonan visa bekerja dan berlibur tersebut di sini ya.

Sebenarnya boleh dibilang hal yang paling menjengkelkan adalah menunggu jadwal wawancara yang kadang tak kunjung datang itu. Menurut pengalaman sendiri, saya butuh waktu sekitar delapan bulan untuk akhirnya bisa wawancara dengan petugas Imigrasi. Hampir setiap hari, saya selalu buka situs imigrasi hanya untuk mengecek jadwal wawancaranya. Belum lagi kalau tiba-tiba situsnya lama / tidak bisa dibuka --mungkin karena trafik yang super padat-- buat saya jadi suka gigit jari. Tapi, kalau sudah dapat panggilan, rasa sebal dan lelah menunggunya jadi terbayarkan. Saya mendaftarkan diri pada bulan Juli dan baru dapat panggilan di bulan Januari tahun depannya. Trust me, ini bukan waktu yang sedikit.

Seperti apa sih wawancaranya?

Sewaktu hari wawancara tiba, saya pun berangkat sendiri ke Gedung Direktorat Jenderal Imigrasi yang ada di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan (masih satu area dengan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia). Hanya para peserta yang memiliki undangan saja yang diperbolehkan untuk mengikuti wawancara. Undangan tersebut biasanya dikirimkan ke email beberapa hari sebelum tanggal wawancara sehingga kita bisa mempersiapkan berkas dengan semaksimal mungkin. Jikalau ternyata ada yang tidak mendapatkan email undangan namun namanya tertera di jadwal wawancara, maka masih dianggap terdaftar sah pada tanggal yang telah ditentukan itu. Cukup cetak jadwal tersebut lalu tunjukkan ke petugas Imigrasi saja.


Proses wawancaranya sendiri tidak memakan waktu lama, rata-rata hanya sekitar 5-10 menit saja per orang. Tapi karena sistemnya First Come First Serve, maka datang ke lokasi lebih awal akan jauh lebih baik. Pertanyaan yang ditanyakan oleh petugas pun bukan sesuatu yang sulit, hanya beberapa pertanyaan sederhana seperti "Kenapa mau datang ke Australia?", "Mau tinggal di mana nanti?", "Apa ada kenalan di sana?". dan sebagainya. Dalam jangka waktu seminggu bahkan kurang, saya sudah berhasil mendapatkan surat sakti tersebut. Tapi yang perlu diingat kalau prosesnya bisa bervariasi bagi setiap orang ya. Saran saya, perbanyaklah networking kamu selama sesi wawancara ini berlangsung karena akan sangat membantu sekali di masa yang akan datang. Syukur-syukur kalau kamu bisa berhasil menemukan teman seperjalanan dan seperjuangan nantinya.


Apa yang harus dilakukan setelah dapat SRPI?

Hal pertama yang wajib diperhatikan setelah berhasil mendapatkan SRPI adalah batas waktu. Seperti yang sudah ditulis pada artikel pertama bahwa surat sakti dari Imigrasi itu hanya berlaku selama 30 hari sejak tanggal dikeluarkan. Maka dari itu, saya mesti cepat-cepat melakukan tahapan lainnnya seperti pemeriksaan medis dan permohonan visa ke AVAC. Pada posisi ini, kita dibebaskan untuk memilih apakah mau melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu atau belakangan setelah mengajukan permohonan visanya. Nah, kalau saya pilih untuk medical checkup duluan.

Apa yang harus disiapkan untuk pemeriksaan medis?

Yang paling penting saat melakukan pemeriksaan medis atau bahasa kerennya Medical Checkup (MCU) adalah kita harus sehat jasmani dan rohani. Tentunya supaya hasil pemeriksaannya bagus dan tidak ada masalah sama sekali. Pemerintah Australia sangat ketat sekali dalam hal kesehatan, bahkan visa kita bisa ditunda penerbitannya kalau ternyata ada indikasi penyakit tertentu. Jangan melakukan pemeriksaan ketika sedang tidak dalam kondisi yang prima termasuk di dalamnya haid bagi perempuan.

Berhubung saya MCU sebelum mengajukan permohonan visa, maka ada beberapa hal yang mesti dilakukan terlebih dahulu yaitu membuat ImmiAccount untuk mendapatkan health identifier (HAP ID) baru mendaftar di rumah sakit yang telah ditunjuk khusus. Kedua hal ini sangat mudah dilakukan dan bisa diselesaikan dalam hitungan menit saja. Buat kamu yang belum pernah registrasi ImmiAccount, bisa langsung daftar di sini.


Sebagai informasi bahwa tidak semua rumah sakit dapat dijadikan rujukan untuk pemeriksaan medis ini. Hanya rumah sakit yang sudah ditunjuk saja yang bisa memproses MCU khusus visa Australia. Di Jakarta sendiri cuma ada 2 rumah sakit yang bisa dipakai untuk pemeriksaan yaitu RS Premier Bintaro dan RS Premier Jatinegara. Kebetulan rumah saya dekat sekali dengan RS Premier Bintaro, maka saya pilih untuk MCU di sana. Caranya, cukup buat temu janji melalui telepon dan tentukan harinya. Nah, pada saat ini kita akan diminta untuk menyebutkan health identifier (HAP ID) yang bisa diperoleh dari akun ImmiAccount di atas.

Seperti dikutip dari situs RS Premier Bintaro, ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan oleh setiap peserta yang ingin melakukan MCU Visa Australia diantaranya:
1. Tidak perlu puasa dan dianjurkan banyak minum air putih. Beberapa kawan bilang kalau minum susu beruang bisa membantu mengoptimalkan kondisi tubuh sehingga hasil pemeriksaannya bisa menjadi semakin baik. 
2. Membawa paspor asli / fotokopi paspor yang dilegalisasi asli dari kedutaan. Jikalau tidak membawa fotokopi paspor, biasanya petugas rumah sakit akan membantu membuatkan fotokopinya.
3. Membawa KTP atau akte kelahiran jika paspor ada di kedutaan.
4. Membawa pengantar dari kedutaan (HAP ID), cukup disebutkan atau ditunjukkan saja kodenya.
5. Tidak dalam kondisi menstruasi. Jika ternyata pada saat hari pemeriksaan, baru mulai haid maka petugas rumah sakit akan memberikan waktu tunda sampai periodenya selesai. Jangan lupa buat temu janji penggantinya.
6. Membawa kacamata jika pakai kacamata.
7. Membawa atau mencatat obat-obatan yang dikonsumsi, jika ada penyakit atau sedang dalam pemakaian obat tertentu.



Apa saja pemeriksaan medis yang dilakukan?

Pada saat MCU, saya melalui beberapa pemeriksaan diantaranya pemeriksaan fisik, urin, mata, x-ray dada dan umum. Kita akan diberikan baju pengganti untuk mempermudah pemeriksaan nantinya, jadi saran saya pakai baju santai saja dan tidak usah bawa barang terlalu banyak. Setelah mengisi formulir identitas di bagian resepsionis, kita akan diminta untuk duduk menunggu antrean bersama pasien lainnya. Biaya MCU sebesar Rp. 895,000.- akan dibayarkan belakangan setelah semua proses pemeriksaan selesai.

Pertama kali yang diperiksa adalah kondisi fisik yang terdiri dari pengukuran tinggi dan berat badan, lalu diikuti dengan cek tekanan darah. Selanjutnya adalah pemeriksaan urin. Semakin bening urin kita, tandanya semakin bagus hasilnya. Maka dari itu perbanyaklah minum air putih sebelumnya. Setelah itu pemeriksaan mata. Kebetulan saya pengguna kacamata minus, jadi saya diwajibkan untuk memakai kacamata saat pemeriksaan berlangsung. Kedua proses ini hanya memakan waktu tidak lebih dari 5 menit. Yang bikin lama biasanya adalah banyaknya antrean pasien yang mau MCU juga.


Setelah urin dan mata diperiksa, maka akan dilanjutkan dengan foto x-ray bagian dada di ruang radiologi. Saya sampai mesti ulang 3 kali, karena tulang rusuk saya ada yang tidak terlalu kelihatan. Mungkin efek tumpukan lemak kali ya. Hahaha.. Tapi ini justru yang paling penting karena Pemerintah Australia mewajibkan foto x-ray dengan bagian tulang rusuk (dada) terlihat secara jelas. Untungnya tidak ada masalah dengan hasil pemeriksaan saya meskipun harus diulang sampai beberapa kali.

Nah, yang terakhir adalah pemeriksaan umum termasuk di dalamnya pemeriksaan anggota tubuh dan wawancara dengan dokter khusus. Waktu itu saya dibantu oleh dr. Erlynda Taufik. Dokter akan memeriksa terlebih dahulu anggota tubuh kita satu per satu secara garis besar. Pada tahap ini, kita akan diminta untuk menanggalkan baju dan celana --hanya pakai pakaian dalam saja. Setelah itu, barulah tahap wawancara. Pertanyaan yang dilontarkan seputar masalah kesehatan tubuh dan jiwa. Ini adalah sesi terakhir pemeriksaan. Total waktu yang saya habiskan untuk melalui seluruh rangkaian prosesnya adalah 1 jam.

Biasanya jika tidak ada gangguan apa-apa pada kesehatan, sang dokter akan langsung mengirimkan hasil medical checkup ke kedutaan Australia. Jadi, boleh dibilang hingga pada tahap ini, yang perlu dilakukan hanyalah menunggu. Kalau penasaran sama hasilnya, boleh minta tolong ke bagian resepsionisnya untuk mengirimkan berkas-berkas pemeriksaan ke email kita. Berhubung sudah yakin dengan kondisi sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan permohonan visa ke Australia Visa Application Centre (AVAC) sekitar 2 hari setelahnya.
Apa yang perlu disiapkan untuk AVAC?

Pada dasarnya, dokumen yang saya submit ke AVAC itu sama dengan dokumen SRPI. Hanya saja ada tambahan HAP ID dan kwitansi medical checkup sebelumnya. Enaknya kalau sudah MCU terlebih dahulu adalah kita tidak perlu menunggu terlalu lama dari biasanya. Saya tinggal masukkan berkas-berkas dan menunggu keputusan visa saya apakah disetujui atau tidak. Oh ya, walaupun seluruh dokumen yang telah kita submit itu sudah lengkap dan sempurna belum tentu visa kita langsung disetujui. Bisa saja karena sesuatu hal, visa kita ditolak dan uang kita hangus begitu saja. Jadi, jangan lupa banyak-banyak berdoa juga ya.

Untuk kamu yang belum tahu AVAC itu apa, ada baiknya baca sedikit kutipan dari situs VFS Global berikut ini:
AVAC merupakan sebuah layanan yang diberikan oleh PT VFS Services Indonesia yang berhubungan dengan visa, termasuk penerimaan dokumen-dokumen permohonan visa dan biayanya, dan untuk pengembalian hasil pengajuan visa kepada pemohon yang bersangkutan (Bila pemohon memiliki alamat surat elektronik (surel)/email, maka hasil pengajuan visa akan langsung dikirimkan ke alamat surel pemohon oleh Kedutaan Australia). Layanan dan operasional yang disediakan oleh AVAC adalah sesuai dengan standar peraturan layanan pelanggan yang dimiliki oleh Australian Government Department of Immigration and Border Protection (DIBP).

Permohonan pengajuan visa secara langsung (tanpa membuat temu janji) ke AVAC, saat ini akan dikenakan biaya IDR 115,000,- di luar biaya visa. Kalau tidak mau dikenakan biaya, kita diwajibkan untuk daftar antre dulu secara online. Jadi, ada baiknya buatlah temu janji terlebih dahulu sebelum pergi ke sana. Caranya mudah sekali yaitu tinggal mengisi form Aplikasi Temu Janji yang bisa diakses di situs VFS Global atau bisa klik di sini. Setelah itu kita tinggal datang pada hari yang telah ditentukan dan masukkan seluruh berkas yang diminta.

Apa saja berkas yang harus diserahkan ke petugas AVAC?

Seperti yang sudah disampaikan, dokumen yang diberikan ke petugas adalah sama dengan berkas permohonan SRPI. Namun ada beberapa dokumen tambahan lainnya. Info lengkapnya sebagai berikut:

1. Formulir 1208 yang diisi secara lengkap menggunakan huruf kapital semua. Ini adalah formulir pengajuan visa bekerja dan berlibur khusus subkelas 462. Boleh diketik komputer atau tulis tangan, hindari coretan atau tip-ex.

2. Surat Rekomendasi Pemerintah Indonesia (SRPI) yang dicetak di kertas A4. Tanpa adanya SRPI ini kita tidak bisa mengajukan Work and Holiday Visa. 

3. Kartu Tanda Penduduk (KTP). Jangan lupa fotokopi di kertas A4, tidak perlu digunting.

4. Paspor asli dengan masa berlaku 18 bulan dan fotokopi paspor halaman identitas di kertas A4, tidak perlu digunting.

5. Akte kelahiran dan kartu keluarga beserta masing-masing fotokopinya.

6. Ijazah dan transkrip nilai atau surat keterangan masih mahasiswa dari kampus (bagi yang belum lulus kuliah). Bawa fotokopinya, tidak perlu dilegalisasi.

7. Sertifikat IELTS, fotokopi 1 lembar.

8. Surat keterangan bank / bank reference asli. Bisa pakai bank reference yang dipakai untuk pengajuan SRPI waktu itu. Jadi yang perlu diserahkan ke pihak Imigrasi yang fotokopi saja, sedangkan surat aslinya diserahkan ke AVAC.

9. Pas foto ukuran 35 mm x 45 mm dengan warna latar belakang putih atau boleh bebas. Ini juga bisa pakai foto yang diajukan untuk memperoleh SRPI kemarin. Jadi tidak perlu foto lagi.

10. Kwitansi medical checkup bagi yang sudah melakukan pemeriksaan terlebih dahulu beserta nomor HAP ID. 

11. Resi pembayaran visa yang didapatkan setelah membayar lunas di konter AVAC. Sebenarnya ada beberapa cara pembayaran visa yaitu bayar tunai di konter AVAC, tunai di loket bank atau dengan kartu kredit. Jika memilih untuk menggunakan kartu kredit akan dikenakan additional charge 3%.
12. Curriculum Vitae, namun ini opsional. Boleh dilampirkan atau tidak juga tidak apa-apa.

Sampai dengan artikel ini ditulis, biaya visa yang diharus dibayarkan adalah Rp. 4,840,000.-. Berhubung saya direct lodge in tanpa temu janji (walk-in appointment), maka saya dikenakan biaya tambahan Rp. 115,500.- lagi. Lalu ada biaya logistik sebesar Rp. 165,000.-. Jadi saya harus mengeluarkan uang dengan total Rp. 5,120,500.- yang disetorkan tunai ke petugas AVAC. 


Proses lodge in yang saya lalui di atas tidaklah memakan waktu lama, mungkin karena saya datang pada hari Senin sehingga tidak ada banyak antrean. Begitu sampai di Kuningan City Lantai 2, saya langsung masuk ke gerbang AVAC khusus visa UK dan Australia. Petugas keamanan akan menanyakan kita apakah sudah buat temu janji dulu atau walk-in appointment. Dokumen saya juga diperiksa apakah sudah lengkap semua atau belum, setelah itu baru diberikan secarik kertas sebagai tanda sudah melalui security screening. Boleh dibilang penjagaan di sini sama ketatnya dengan keamanan di kedutaan. Ada beberapa security officer dan metal detector di gerbang masuknya. Tidak diperbolehkan membawa laptop ke sana jadi sebaiknya tidak usah bawa apa-apa lagi selain berkas pengajuan visa.

Di dalam AVAC ada security officer lagi yang akan membantu cetak nomor antrean. Setelah itu saya tinggal mengantre saja di dalamnya. Di hari itu, saya hanya melihat beberapa orang saja yang menunggu sehingga tidak perlu antre terlalu lama agar dokumen saya bisa diproses. Kurang lebih saya hanya perlu menghabiskan 20 menit saja. Jangan lupa untuk simpan resi pembayaran visanya sebagai bukti bayar yang sah. Di resi pembayaran terdapat reference number (VLN number) yang bisa digunakan untuk melacak status aplikasi visa kita. Untuk melacak status aplikasi visa kamu, bisa klik di sini.

Petugas AVAC akan menyampaikan kepada pemohon bahwa hasil keputusan visa akan diberitahukan maksimal 14 hari dari tanggal pengajuan. Untuk kasus saya pribadi, saya mengajukan tanggal 29 Januari dan baru granted tanggal 5 Februari. Kurang lebih sekitar 5 hari kerja prosesnya.

Sampai kapan masa berlaku WHV?

Work and Holiday Visa berlaku selama 12 bulan penuh terhitung sejak tanggal kedatangan pertama ke Australia dan bersifat multiple entry. Jadi saya bisa bolak-balik masuk ke Negara Kangguru itu kapan pun saya mau selama masa berlaku visa aktif. Enaknya lagi, kita dibebaskan untuk bisa pergi ke sana sampai tahun depannya sehingga kita tidak perlu buru-buru pesan tiket keberangkatan setelah visa ada di tangan kita. Misalnya visa granted tanggal 5 Februari tahun ini, maka terakhir masuk ke Australia adalah sebelum tanggal 5 Februari tahun depannya. Dan visa tersebut baru diaktifkan begitu kita menginjakkan kaki pertama kali di Australia.
Visa Australia itu sifatnya paperless jadi paspor kita tidak akan ditempeli kertas visa lagi di dalamnya. Kita akan mendapatkan informasi granted visa melalui email. Di sana tertulis dengan lengkap semua informasi mengenai visa kita, termasuk di dalamnya nama kelas / subkelas visa, identitas, nomor paspor, jenis entry, tanggal terakhir kedatangan, dan kondisi visa. Untuk kondisi visa bekerja dan berlibur (conditions) yang saya dapatkan, ada 2 jenis yaitu 8547 dan 8548. Kondisi 8547 Work Limitation maksudnya pemegang visa hanya diperbolehkan untuk bekerja maksimal 6 bulan di satu perusahaan. Jadi saya harus mencari perusahaan lain jika sudah bekerja selama 6 bulan dengan perusahaan yang sekarang. Sedangkan kondisi 8548 Max 4 Months Study maksudnya saya hanya boleh belajar (atau kursus) selama maksimal 4 bulan saja, tidak boleh lebih karena ini bukan student visa. Jika pemegang visa menyalahi aturan yang sudah ditetapkan, maka akan ada konsekuensinya diantaranya pembatalan visa, ditahan oleh polisi imigrasi dan deportasi.

Jadi, begitulah persiapan sekaligus berkas-berkas yang harus diserahkan ke Australia Visa Application Centre (AVAC) nanti. Kalau ada pertanyaan seputar visa lodgement, silakan tanyakan di kolom komentar ya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

You Might Also Like

2 comments

INFORMATION

INFORMATION
Untuk informasi dan kontak, silakan hubungi email : mail.earthcircus[at]gmail.com atau bisa juga dikontak via DM Instagram: @addie_valent

Total Pageviews

Copyright

Tulisan yang dimuat pada situs ini adalah pandangan pribadi penulis yang bersifat opini dan personal. Semua konten yang dibuat di situs ini hanya ditujukan untuk membagi informasi dan rekreasi semata. Penulis tidak bertanggungjawab pada segala bentuk ketidak-akuratan maupun kelalaian penggunaan informasi yang ada pada halaman situs ini.

Kecuali disebutkan lain, tulisan dan foto yang ada di blog ini adalah milik penulis. Pengutipan tulisan dan pemakaian foto untuk tujuan non-komersial diperbolehkan, namun harus mencantumkan referensi link ke situs ini.