TRAVELING - Jalan-jalan Sehari Di Kuala Lumpur, Kenapa Enggak?


Mumpung lagi ada kerjaan di luar, akhirnya saya memutuskan untuk mampir dan melakukan perjalanan singkat di negara tetangga. Kali ini, benar-benar tidak ada rencana sama sekali. Semua serba mendadak. Tiket dan penginapan dipesan 1 hari sebelum keberangkatan. Rencana perjalanan juga dibuat pada saat sampai di bandara tujuan. Untungnya hanya pergi ke sesama negara Asia Tenggara jadi hal seperti ini masih bisa dibawa santai, sangat jauh berbeda dengan trip ke Jepang sebelumnya yang dari jauh-jauh hari mesti dipersiapkan semuanya-dari visa, kartu transportasi, pocket wifi, sampai itinerary yang wajib super lengkap.

Well, my one day in the heart of Malaysia: Kuala Lumpur starts now! 

Saya sampai di Bandara KLIA tengah malam karena pesawat harus delay 1,5 jam pada saat keberangkatan. Akibatnya saya tidak bisa naik bus terakhir dari airport ke Kuala Lumpur. Sebenarnya ada beberapa opsi transportasi untuk bisa pergi ke Kuala Lumpur yaitu naik bus, taksi atau KL Express. Biayanya secara berurutan adalah RM 10, RM 70, dan RM 55. Sempat dilema mau naik taksi yang bisa langsung sampai ke penginapan atau naik bus dengan tarif yang lebih murah tapi harus menunggu jam 5 pagi. Fyi, perkiraan ongkos taksi itu belum termasuk tambahan biaya (additional surcharge) karena beroperasi pada tengah malam, tol dan biaya pesan taksi. Buat seorang backpacker, saya tidak menyarankan menggunakan moda transportasi ini karena terlalu mahal. Dengan bermodal alasan itulah, saya akhirnya memutuskan untuk menunggu pagi di bandara lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus ke Kuala Lumpur. 

Ada beberapa operator bus yang beroperasi di KLIA yaitu Aerobus, Star Shuttle, Yoyo Express dan lainnya. Bus berangkat paling awal pukul 5.30 pagi dan paling terakhir pukul 23.00 malam. Jadwal keberangkatannya setiap 30 menit. Harga tiket dari KLIA ke Kuala Lumpur hanya RM 10 saja, bisa dibeli di Kaunter Bas yang lokasinya ada di lantai basemen bandara-bersebelahan dengan kantin umum. Ternyata bus yang membawa saya ke Kuala Lumpur, tidak hanya beroperasi di dalam negeri saja. Namun juga dapat mengantarkan penumpang hingga ke perbatasan negara lainnya seperti Singapura atau Thailand. Patut dicoba ke depannya.


Sesampainya di tengah kota, saya langsung menuju ke penginapan yang ternyata jaraknya tidak jauh dari pemberhentian terakhir bus-kurang lebih sekitar 300 meter. Tadinya saya tertarik untuk menginap di Jalan Alor karena dekat dengan beberapa pusat perbelanjaan kenamaan di sana. Tapi akhirnya berubah pikiran dan memilih tinggal di daerah Pecinan. Penginapan yang saya tinggali namanya Explorers Guesthouse. Tempatnya cozy dengan suasana khas daerah pecinan-lampion, lukisan, cat merah di area depan. Di sini ada beberapa pilihan jenis kamar mulai dari mixed dorm room, all-female dorm room, twin room sampai double room. Tempat tidurnya nyaman, ruangan ber-AC, shower room yang bersih dengan dry toilet terpisah, free breakfast, pelayanan yang ramah dan yang paling esensial: murah. Saya cukup bayar RM 40 untuk 1D1N dan uang jaminan RM 10 yang bisa diambil kembali saat check out. Fully recommended

Berhubung 6 jam pertama sudah dihabiskan dengan acara menunggu pagi di KLIA1; duduk manis, muterin bandara, ngopi, makan, gibah via Whatsapp sampai tiba-tiba anteng (eh ternyata ketiduran). Ada satu momen yang gak bakalan bisa dilupakan di sini pas naik Inter-Terminal Rail Transfer (sejenis monorel yang menghubungkan KLIA1 dan KLIA2). 

Monorail transfer ini antrinya bukan main. Penuh, sepenuh antrian masuk Universal Studio Singapore pas akhir pekan. Saking banyaknya penumpang, saya jadi kebagian paling belakang dan didorong-dorong pula. Pas adegan dorong-dorongan ini, tiba-tiba muka saya mendarat dengan tepatnya di ketiak mas-mas. Ya ampun, ini bukan armpit biasa tapi luar biasa: BAUNYA! Kepala saya jadi seketika pening dan mau pingsan tapi demi menjaga kedamaian dunia per-monorel-an, akhirnya saya senyumin aja. Pas dikasih senyuman, eh malah disenyumin balik. Anjay, pengalaman yang bikin muntah sendiri kalau diingat-ingat lagi. Akhirnya pas sampai di penginapan, langsung mandi biar baunya gak nempel. Wakakaka.. Balik ke topik deh! 


Sri Maha Mahariamman Temple dan Guan Di Temple

Destinasi pertama setelah keluar dari penginapan adalah mampir sebentar di Kuil Sri Maha Mahariamman dan Kuil Guan Di yang jaraknya dekat banget sama The Explorers Guesthouse-cuma 5 menit saja. Kedua bangunan ini sudah berdiri lama sejak tahun 1800-an di area Pecinan Kuala Lumpur yang biasa digunakan untuk beribadah oleh umatnya masing-masing. Untuk memasukinya tidak dikenakan biaya alias gratis, namun harus berpakaian dan bertingkah laku sopan.

Kuil Sri Maha Mahariamman awalnya merupakan sebuah kuil pribadi milik keluarga Pillai. Namun pada tahun 1920, bangunan ini akhirnya dibuka sebagai tempat peribadatan umum. Kuil ini sempat mengalami beberapa kali pemugaran termasuk di dalamnya adanya penambahan puncak Raja Gopuram bergaya India Selatan yang dibangun tepat di atasnya. Puncak Gopuram sendiri memiliki tinggi 22,9 meter yang diperkaya dengan 228 relief patung yang menggambarkan tentang dewa-dewa Hindu.


Tidak terlalu jauh dari kuil di atas terdapat sebuah rumah peribadatan lain yang juga sudah ada sejak beberapa abad silam yaitu Kuil Guan Di (Kuan Ti Temple). Kuil ini dibangun untuk menghormati panglima perang Jenderal Kwan atau juga dikenal dengan nama aslinya Guan Yu. Sebagai dewa perang, Guan Di dianggap sosok yang mahir dalam seni bela diri dan memiliki keahlian perang yang tinggi pada masa Dinasti Sui. Oleh karena itu, banyak orang yang memuja dirinya sejak dahulu kala. Seperti kuil Tao pada umumnya, di bagian paling depan bangunan ini terdapat beberapa patung yang berfungsi sebagai dewa penjaga, diantaranya patung singa, patung dewa pintu, patung naga dan shilin. Sedangkan patung Dewa Guan Di yang berwajah emas berdiri kokoh di dalam kuil yang sudah ada sejak tahun 1880 ini.

Untuk menemukan kedua kuil yang populer ini tidaklah sulit karena letaknya masih dalam kawasan pecinan Petaling Street, tepatnya di Jalan Tun H.S. Lee. Dan berhubung kawasan itu masih sepi pada pagi hari, saya memutuskan untuk pergi ke tempat lain terlebih dahulu. Di Petaling Street ini, kita bisa belanja barang-barang murah lho, nanti malam kita balik lagi ya ke sana.


Merdeka Square

Tidak puas rasanya pergi ke Malaysia, kalau belum mengunjungi landmark yang bersejarah ini. Merdeka Square sebelumnya dikenal dengan nama Royal Selangor Club Padang dan biasa digunakan untuk tempat latihan berbagai macam cabang olahraga, salah satunya kriket. Pada masa kolonial, pemerintah Inggris memutuskan untuk membangun gedung kantor dan tempat tinggal para pegawai pemerintahan di sini untuk menghindari kerusuhan yang tidak diinginkan. Salah satu bangunan yang didirikan kala itu adalah gedung Sultan Abdul Samad yang saat ini dialih-fungsikan menjadi Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia. Bangunan tua ini dirancang oleh A.C. Norman, R. A. J. Bidwell, dan A. B. Hubback dengan arsitektur bergaya Indo-Saracenic atau Neo-Mughal. 
Pada malam 30 Agustus 1957, pertama kalinya bendera Inggris diturunkan dan diganti dengan bendera Malaysia di tempat ini. Yang kemudian diikuti oleh upacara kemerdekaan pada pagi harinya di depan Stadion Merdeka. Dari situlah, kawasan ini disebut sebagai Dataran Merdeka sebagai pengingat tempat dikumandangkannya kemerdekaan Malaysia pada waktu itu. Saat ini, Merdeka Square sudah banyak dijadikan sebagai tempat pertemuan acara kenegaraan dan juga rumah untuk Parade Kemerdekaan yang diselenggarakan setiap tahunnya. Sewaktu saya mengunjungi tempat ini, ternyata sedang ada pagelaran expo sehingga banyak orang yang hilir-mudik di sana dan juga banyak foodtruck yang berjualan di depannya.


Kuala Lumpur City Gallery

Berfoto di depan lambang I❤ KL adalah sebuah rutinitas yang banyak dilakukan oleh para pelancong dari berbagai belahan dunia kala berkunjung ke Kuala Lumpur. Lambang ini sepertinya sudah memiliki pamor luar biasa layaknya patung Merlion di Singapura, negara tetangganya. Letaknya ada persis di depan KL City Gallery yang ada di kawasan Merdeka Square. Untuk berfoto di sini tidak dikenakan biaya sama sekali alias gratis, namun harus antri yang lumayan panjang. Tapi jika kamu mau masuk ke dalam galeri, maka harus membayar tiket masuk sebesar RM 10 per orangnya. Begitu menjejakkan kaki ke dalam galeri, kita akan dengan mudah menemukan sejarah mengenai terbentuknya negara Malaysia memenuhi lantai satu bangunan ini. Pidato kemerdekaan bangsa juga bisa dilihat dan didengarkan di tempat ini. Di dalam tempat ini juga terdapat banyak sekali karya seniman lokal yang dipajang menghiasi sudut-sudut ruangan. Awas, perhatikan langkahmu dan jangan sampai merusak karya yang ada ya.



Sedangkan di lantai dua, kita bisa melihat beberapa replika bangunan bersejarah yang ada di kota ini. Mulai dari tiruan kastil melayang, pilar warna-warni khas Brickfields, beberapa karya seni lambang KL, hingga maket kota Kuala Lumpur yang menawan. Setiap 30 menit, pemandu galeri akan mengajak para pengunjung untuk dapat melihat presentasi sejarah kota Kuala Lumpur melalui proyektor yang dipadukan dengan permainan lighting yang mewah. Setelah selesai menonton pertunjukan tersebut, jangan lupa untuk mampir ke toko merchandise yang ada di lantai bawah. Pengunjung dapat dengan bebas melihat proses di balik pengerjaan kerajinan tangan tersebut di workshop yang terletak di sebelahnya. Sebelum bertolak ke destinasi berikutnya, saya istirahat sebentar sambil makan durian cake dan es cendol di tempat ini. Hihihi..


Menara Petronas dan Suria KLCC
Setelah puas jalan-jalan di sekitar penginapan, saya memutuskan untuk pergi bertolak ke landmark kenamaan lainnya yaitu Menara Kembar atau Twin Towers Petronas. Menurut Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH), menara ini pernah dinobatkan menjadi bangunan tertinggi di dunia sejak tahun 1998 sampai 2004 dan masih memegang rekor menara kembar tertinggi didunia hingga sekarang. Tower pertama digunakan sebagai gedung perkantoran Petronas dan kantor cabangnya, sedangkan tower keduanya disewakan untuk perusahaan lainnya. Di bawah bangunan ini, terdapat pusat perbelanjaan elit yaitu Suria KLCC.

Di mall ini, kita bisa menemukan banyak sekali toko barang branded yang bisa jadi tempat pilihan berbelanja mulai dari kosmetik, pakaian, elektronik dan lain-lain. Mumpung sedang jalan-jalan di tempat ini, saya memutuskan untuk belanja beberapa buah tangan untuk keluarga dan kawan-kawan di rumah. Salah satu yang saya beli adalah beberapa tas tangan dari Vincci dan C&K. Ternyata harga kedua brand tersebut lumayan berbeda jauh ketika beli di sini dan di Jakarta. Alhasil, saya jadi hampir kesetanan karenanya. Hahaha..


Petaling Street
Lepas berputar-putar seharian dan berakhir kalap belanja, saya akhirnya memutuskan untuk pulang ke penginapan. Eitss, tapi sebelum itu, ada baiknya untuk menyatroni sebentar sebuah jalanan yang terkenal dengan dagangan kaki limanya. Apalagi kalau bukan Petaling Street. Saya banyak sekali menjumpai dagangan bagus dengan harga miring terutama souvenir dengan logo I LOVE KL atau Malaysia dan gambar landmark-nya. Banyak pula penjual yang menjajakan barang-barang branded imitasi seperti tas Gucci, dompet LV bahkan ikat pinggang YSL. Selain itu juga ada beberapa restoran yang ikut buka lapak menghidangkan masakannya di pinggiran toko. Berhubung saya belum makan malam, akhirnya saya mampir ke salah satu restoran yang ada di sana yaitu Kim Lian Kee. Sembari menyedot segelas ice lemon tea, saya pesan Penang Fried Noodle, Tom Yum Noodle, dan Poh and Vegetable. Banyak yaaa pesanannya, tapi saya tidak khawatir karena ternyata harganya juga masih bersahabat buat kantong. Seporsi menu makanan di sini berkisar antara RM10 sampai RM20 saja. Sedangkan harga segelas ice lemon tea hanya RM3,50. Dari segi rasa juga enak menggetarkan lidah. Hahaha..



Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 dan saya sudah lelah sekali karena seharian berjalan-jalan keliling kota Kuala Lumpur. Tangan saya juga sudah penuh belanjaan sana-sini, jadi saya putuskan untuk pulang ke penginapan. Untungnya, jarak Petaling Street dan penginapan hanya sekitar 500 meter saja sehingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Setelah menginjakkan kaki di dalam kamar, saya langsung bongkar belanjaan sekalian packing untuk kepulangan esok hari. Well, waktu sehari saya di Kuala Lumpur sudah habis, jadi sampai jumpa lain waktu ya! 

***

You Might Also Like

1 comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Blog Archive

Total Pageviews

BROUGHT TO YOU BY

BROUGHT TO YOU BY