TRAVELING - Manjat Via Ferrata di Gunung Parang


Melihat pemandangan dari bangunan lantai 20 itu sudah biasa bagi sebagian warga kota termasuk saya sendiri. Yang dipandang lagi-lagi hanya skyscrapper tetangga atau jalan beraspal yang semakin lama semakin panjang. Belum lagi suara bising kendaraan yang masih terdengar dari ketinggian. Bosan!

Nah sesekali saya menyempatkan diri untuk refreshing dengan teman-teman di akhir pekan. Tak perlu wisata mahal, cukup pilih yang murah saja namun berkesan. Bisa piknik di taman kota, hunting makanan tradisional yang belum pernah dicicipi atau bercengkrama dengan alam sekitar. Pilihan terakhir inilah yang sering menyatukan kami semua. Rasanya kalau sudah berkumpul gelar tenda sambil minum kopi ditemani suara burung liar itu nikmat banget! Rayuan aroma kopi suguhan kafe mahal pun tak bisa menandingi perasaan bahagia seperti itu. Lebay amat sih, dek.

Perjalanan kali ini dimulai dengan niat untuk melakukan sosialisasi terhadap pengurangan jumlah sampah yang diproduksi oleh rumah tangga terutama sampah plastik di kawasan Gunung Lembu, kabupaten Purwakarta. Caranya adalah dengan mengajarkan beberapa penduduk desa untuk membuat ecobricks. Cerita mengenai bagaimana cara membuat ecobricks bisa kamu temukan di sini ya.

Singkat cerita, setelah kegiatan itu selesai kami langsung pergi ke Gunung Parang yang terletak beberapa kilometer dari Gunung Lembu. Di sinilah lokasi kegiatan kami selanjutnya. Letak gunung ini sendiri sekitar 28 km dari kota Purwakarta dan dianjurkan agar ditempuh menggunakan kendaraan pribadi karena susahnya menemukan transportasi umum yang ada. Akses jalan ke tempat wisata ini terbilang cukup sulit dengan kondisi jalan yang rusak dan banyaknya truk besar yang lalu lalang sepanjang jalan. Pernah suatu ketika, spion mobil teman saya hampir patah karena bersenggolan dengan truk di sini. Okay, let's skip it!



Sesuai judulnya, saya akan mendaki Via Ferrata yang sekarang lagi popular di kalangan anak muda. Via Ferrata itu berasal dari bahasa latin yang berarti iron path atau jalan besi. Seperti artinya, tebing batu Gunung Parang ini dilubangi dan dipasangi potongan besi solid dengan panjang kurang lebih 15 cm di sepanjang trek yang nantinya akan dilalui oleh pendaki. Besi-besi tersebut ditata sedemikian rupa hingga ke puncak gunung dengan total ketinggian 938 meter. Wuihh tinggi ya.

Peralatan yang digunakan untuk mendaki pun sederhana yaitu harness yang dilengkapi karabiner dan helm saja. Cara mendakinya pun simpel yaitu dengan memanjat tangga besi sambil memindahkan karabiner satu persatu di antara seling yang terpasang di samping tangga besi. Jadi, siapa pun bisa melakukan aktifitas outdoor ini walaupun bukan seorang pendaki gunung yang ulung. Hari ini kami memilih untuk mencapai ketinggian 300 meter saja karena waktunya sudah terlalu mepet. Kami mulai naik sekitar pukul 15.30 WIB yang diselingi dengan sedikit gerimis kecil di sepanjang perjalanan. Estimasi durasi pendakian sekitar 2,5 jam--menurut sang operator.



Sore itu kami dipandu oleh salah satu kawan kami dari komunitas Badega Parang yang menyediakan beberapa pilihan ketinggian pendakian. Harganya berkisar antara 100 ribu (+250 meter), 150 ribu (+300 meter) dan 400 ribu untuk pendakian sampai ke puncak gunung yaitu +900 meter. Saya akan menuliskan berapa total biaya perjalanan kali ini di akhir artikel. Oke lanjut dulu yuk!

Sebelum sampai ke titik awal pendakian, sang operator terlebih dahulu menjelaskan tentang cara mendaki yang benar. Ini penting sekali karena tidak semua orang mengetahui bagaimana cara mendaki via ferrata. Apalagi buat yang baru pertama kali mencoba seperti saya. Setelah itu, barulah kita bisa memulai pendakian ini. 

Jalur pendakian diawali dengan tangga besi yang tersusun lurus, jadi kita hanya perlu memanjat layaknya tangga biasa. Kemudian sedikit demi sedikit berubah ke samping mengikuti struktur bebatuan gunung. Saya harus ekstra hati-hati sewaktu ingin berpindah tempat karena sedikit saja hilang konsentrasi bisa tergelincir jatuh.





Awalnya saya sendiri merasa agak gugup tetapi setelah mendaki beberapa langkah jadi terasa santai. Enaknya lagi, operator kami malah pasang lagu melalui pelantang suara yang buat kami jadi rileks dan mau joget. Hahaha..

Walaupun begitu, bukan berarti tidak ada kendala lho. Bagi saya yang masih awam ini, kendala yang sering terjadi adalah lupa memindahkan karabiner yang terpasang di seling di samping tangga besi. Banyak banget deh lupanya. Tapi kalau disuruh ngitung duit sih jago ya. Faktor cuaca juga jadi masalah tersendiri. Kalau musim hujan, jangan mendaki via ferrata. Selain karena licin, bisa-bisa nanti dikepung oleh awan cumulonimbus yang datang membawa hujan angin dan petir. #duh



Setelah sampai di atas ketinggian 300 meter, saya merasa senang sekali bak seekor elang yang sedang bertengger di sarangnya sambil mengamati eloknya Waduk Jatiluhur dan bentangan sawah di bawah saya. Rasanya gak mau move on dari sana. Tapi sayangnya, waktu sudah terlalu sore dan kami harus bergegas turun karena sudah mulai gerimis mengundang. Jalur turunnya tidak sama dengan jalur pendakian pertama. Tebing yang kami lewati jauh lebih curam dari sebelumnya sehingga kami juga tidak boleh lengah walau sudah agak lelah. Dan kami pun akhirnya sampai di bawah pukul 19.00 WIB. Gelap, maz!

Petualangan di Gunung Parang ini telah selesai dan sekarang waktunya saya untuk berburu sate maranggi khas Purwakarta. Laparrrr, boz!

Catatan Perjalanan:
- Trip kali ini menggunakan kendaraan pribadi dengan share cost Rp. 100,000.- untuk bensin dan tol (sudah termasuk makan siang dan malam)
- Mendaki Via Feratta Gunung Parang sekitar Rp. 150,000.- per orang untuk ketinggian +300 meter
- Sarung tangan kain untuk mendaki sekitar Rp. 15,000.- (bisa bawa sendiri dari rumah)


**Foto oleh Ocid, Baban dan Addie.

You Might Also Like

0 comments

INFORMATION

INFORMATION
Untuk informasi dan kontak, silakan hubungi email : mail.earthcircus[at]gmail.com atau bisa juga dikontak via DM Instagram: @addie_valent

Total Pageviews

Copyright

Tulisan yang dimuat pada situs ini adalah pandangan pribadi penulis yang bersifat opini dan personal. Semua konten yang dibuat di situs ini hanya ditujukan untuk membagi informasi dan rekreasi semata. Penulis tidak bertanggungjawab pada segala bentuk ketidak-akuratan maupun kelalaian penggunaan informasi yang ada pada halaman situs ini.

Kecuali disebutkan lain, tulisan dan foto yang ada di blog ini adalah milik penulis. Pengutipan tulisan dan pemakaian foto untuk tujuan non-komersial diperbolehkan, namun harus mencantumkan referensi link ke situs ini.