TRAVELING - Kedamaian di Meiji Jingu Jepang



Perjalanan selama kurang lebih dari 13 jam di udara ternyata tidak terlalu terasa melelahkan walaupun naik pesawat yang bukan kelas bisnis. Saya naik pesawat dari Jakarta pada pagi hari kemudian baru tiba di Tokyo International Airport malamnya. Sewaktu turun dari pesawat, saya langsung menuju ke tempat bus bandara. Untuk mencapai hostel yang saya tempati butuh sedikit berjalan kaki dari pemberhentian bus, jadi anggap saja itu night city tour (sambil menghibur diri). Berhubung sampai penginapan malam hari, saya langsung bersih-bersih diri dan berniat untuk tidur cepat supaya besok bisa langsung beraktifitas.

Keesokan harinya, saya langsung cek daftar perjalanan yang sudah dibuat sebelumnya dan rencananya hari ini mau ke Meiji Jingu atau Kuil Meiji yang terletak di Shibuya. Untuk pergi ke tempat ini, saya naik kereta ke arah Shibuya lalu berjalan kaki ke pintu masuk kuil. Kalau naik kereta, bisa turun di stasiun Yoyogi (Yoyogi-eki) atau stasiun Sangubashi (Sangubashi-eki). Setelah keluar dari stasiun, kamu bisa melihat pintu masuknya dari kejauhan karena di depannya ada sebuah torii yang besar sekali. Torii adalah gerbang utama yang umumnya ada di depan kuil Shinto dan melambangkan suatu peralihan dari alam duniawi menuju ke tempat yang suci.

  


Sewaktu sampai di area kuil ini, saya merasa damai sekali. Banyak pepohonan tinggi yang sepertinya sudah berusia ratusan tahun di sini. Udaranya sejuk dan sinar matahari masuk dengan lembutnya melalui celah pepohonan. Ini adalah salah satu rekomendasi yang benar-benar bagus.

Menurut sejarah, kuil ini dibangun untuk menghormati Kaisar Meiji dan Permaisuri Shoken yang telah berjasa dalam masa Restorasi Meiji. Pembangunan kuil ini bahkan dijadikan sebagai proyek nasional pada waktu itu yang melibatkan banyak komunitas dan perkumpulan pemuda dari seluruh Jepang. Sekitar 100,000 pohon dari seluruh Jepang dikumpulkan dan ditanam di kawasan ini. Namun sayangnya, bangunan asli kuil Meiji ikutan hancur semasa serangan udara melanda Tokyo pada Perang Dunia Kedua. Setelah perang berakhir, pemerintah kembali membangun kuil tersebut yang kemudian berdiri kokoh sampai saat ini.



Oh ya, pada saat akan memasuki kuil, kamu akan disambut oleh jejeran tong atau barel sake. Tinggi dan panjang jejeran tong sake—disebut juga kazaridaru atau tong dekoratif—ini bisa mencapai beberapa meter. Sebenarnya yang dipajang di sini hanyalah tong kosong saja, hasil sumbangan dari perusahaan pembuat sake (brewer) untuk kebutuhan festival kuil Shinto. Menurut kepercayaan setempat, sake merupakan jembatan penghubung antara Dewa dan manusia. Orang-orang yang pergi ke festival  kuil akan merayakan acara tersebut dengan meminum beberapa gelas sake dan merasa bahagia  sekaligus dekat dengan para Dewa karenanya. Makanya kita sering melihat para tetua—pada iringan Omikoshi yang diarak sewaktu Ennichisai Festival di Blok M—membawa botol sake dan membagikannya.

Waktu yang paling banyak festival kuilnya adalah musim semi dan gugur. Pada masa tersebut banyak sekali para local brewer yang mendonasikan sake, tentunya untuk keperluan festival tadi. Beberapa kuil Shinto juga membuat sake sendiri, namun harus ada izin khusus dari pemerintah setempat dan dibatasi jumlah pembuatannya. Regulasi pembatasan ini dimulai sejak abad ke-delapan dan berlaku untuk seluruh daerah juga individu. Para brewer hanya akan menyediakan satu botol sake atau tong kosongnya saja untuk dipajang di kuil. Ini merupakan sebuah penerapan dari ajaran tradisional orang Jepang, bahwa Dewa Shinto tidak akan menuntut sesuatu yang berlebihan dari pengikutnya dan juga karena mereka menghormati alam yang ditempatinya dengan cara tidak menyia-yiakan sesuatu. Keren yah!



Setelah melewati pajangan tong sake yang sarat akan makna tersebut, saya akhirnya memasuki pintu kuil. Seperti halnya pergi ke tempat ibadah, kita mesti menyucikan diri dulu dengan cara mencuci tangan dan mulut di temizuya atau purification fountain. Secara tradisi, orang yang sedang dalam keadaan sakit tidak dianjurkan untuk pergi ke kuil karena hal itu dianggap sebagai penyebab ketidaksucian seseorang. Pada umumnya, temizuya—disebut juga chozuya—memiliki bentuk yang sama, yaitu kolam air bersih beratap yang terbuat dari kayu dan memiliki beberapa gayung kecil untuk mengambil air. Letaknya sendiri ada di sisi depan, sebelum pintu masuk kuil.

Tujuan utama para pengunjung yang pergi ke kuil tentu saja untuk berdoa. Namun, banyak juga yang hanya ingin sekadar melihat keindahan bangunan kuno tersebut. Sebagai bentuk penghormatan, pengunjung bisa berdoa di depan  aula persembahan (offering hall) dengan cara melemparkan koin ke kotak persembahan lalu berdoa sejenak.



Anyway, ada mitos yang terkenal di Kuil Meiji yaitu adanya sepasang pohon keramat bernama meteo dan kusu yang tumbuh tegak berdampingan layaknya suami istri. Mitosnya sendiri adalah kalau ada seorang lajang yang berdoa di antara kedua pohon ini, maka ia akan dimudahkan dalam urusan mencari jodoh dan asmara. Wah, saya pun kegirangan dan akhirnya ikutan berdoa juga di depan pohon itu. Ya namanya juga usaha hahaha..

Meiji Jingu sendiri terdiri dari banyak bangunan yang bisa kamu kunjungi diantaranya bangunan kuil utama (Main Shrine), taman (Meiji Jingu-Gyoen), amulet office (Nagadono Juyosho), aula sendratari (Kaguraden), dan toko cinderamata.



You Might Also Like

0 comments

INFORMATION

INFORMATION
Untuk informasi dan kontak, silakan hubungi email : mail.earthcircus[at]gmail.com atau bisa juga dikontak via DM Instagram: @addie_valent

Total Pageviews

Copyright

Tulisan yang dimuat pada situs ini adalah pandangan pribadi penulis yang bersifat opini dan personal. Semua konten yang dibuat di situs ini hanya ditujukan untuk membagi informasi dan rekreasi semata. Penulis tidak bertanggungjawab pada segala bentuk ketidak-akuratan maupun kelalaian penggunaan informasi yang ada pada halaman situs ini.

Kecuali disebutkan lain, tulisan dan foto yang ada di blog ini adalah milik penulis. Pengutipan tulisan dan pemakaian foto untuk tujuan non-komersial diperbolehkan, namun harus mencantumkan referensi link ke situs ini.