TRAVELING - Bersantai di Hutan Pinus Suaka Elang Loji


Padatnya rutinitas sehari-hari membuat saya terkadang kurang istirahat dan merasa lelah sepanjang hari. Tentunya hal seperti ini bisa menghambat efektifitas dalam mengerjakan segala urusan yang ada nantinya. Bersantai sejenak sambil minum kopi dan bercengkrama dengan teman bisa jadi salah satu penghilang stres akibat padatnya pekerjaan. Dan satu lagi obat manjur yang bisa menghapus semua penat yang ada; kembali ke alam.


Liburan singkat kami kali ini dihabiskan dengan kemcer alias kemah ceria di salah satu lokasi seru di daerah Bogor. Memang ya, Bogor itu sepertinya tak pernah kehabisan destinasi wisata asyik yang bisa menjanjikan pemandangan alam yang ciamik, salah satunya adalah Suaka Elang Loji.
Jarak tempat ini tidak begitu jauh dari Stasiun Bogor, letaknya di Desa Loji. Untuk bisa mencapainya, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi atau sewa angkutan umum dari stasiun. Waktu itu, kami memutuskan untuk menyewa angkot dari stasiun karena lebih hemat ongkos. Pertimbangan ini diambil karena kami berencana untuk menginap 3 hari 2 malam di sana.


Sebelum sampai ke tempat tujuan, kami pergi ke pasar terdekat terlebih dahulu untuk membeli beberapa stok bahan makanan. Namanya juga kemah ceria, jadi kami memborong banyak barang malam itu, lagipula harganya murah banget. Ternyata pergi ke pasar itu asyik (dan hemat) juga yaaa.. huhuhu..
Perjalanan ke Desa Loji pun kami lanjutkan dengan menelusuri jalan yang meliuk-liuk naik. Kami sampai kira-kira pukul 01.00 dini hari di pintu gerbang suaka. Berhubung habis hujan, jalan masuknya punya banyak genangan air dimana-mana. Kanan kiri jalan ditumbuhi oleh semak belukar yang tinggi dan dipenuhi oleh suara serangga yang berderik dimana-mana. Menyenangkan rasanya!


Suaka Elang ini terletak di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Kampung Loji, Kecamatan Cigombong. Situs konservasi ini dibangun dengan model kemitraan yang terdiri dari pemerintah, LSM, swasta, dan masyarakat yang saling menguntungkan untuk pelestarian habitat dan konservasi spesies pada tanggal 25 November 2008. Di tempat inilah, beragam upaya penyelamatan dan pelepasliaran raptor (burung pemangsa) hasil sitaan atau kiriman dari masyarakat dilakukan. (Kompasiana.com)

Saat memasuki tempat ini, kami langsung dihampiri oleh sang penjaga kantor Suaka Elang untuk mengurus izin berkemah. Berhubung hari masih sangat gelap, kami ditawarkan untuk menginap di dalam ruangan kantor sampai pagi menjelang. Sembari beristirahat kami pun mulai membereskan kembali barang-barang bawaan dan memasak beberapa bungkus mie instan untuk sekadar mengisi perut. Saat hari sudah berganti, kami pun pamit ke pak penjaga untuk meneruskan perjalanan ke titik perkemahan.


Di situs ini terdapat 3 jenis kandang yang digunakan. Saat baru pertama kali memasuki area suaka, kamu dapat menemukan kandang pertama yang biasa digunakan untuk menampung Elang yang baru saja diambil dari masyarakat. Kandang berikutnya bisa ditemui sesaat setelah melewati area jembatan gantung. Pada kandang kedua ini, tinggalah beberapa Elang yang sedang dalam perawatan. Dalam kandang ini, biasanya Elang hanya diberi makan 2 kali dalam seminggu. Hal tersebut sengaja dilakukan untuk merangsang kembali naluri berburunya. Sebelum dilepasliarkan ke alam, burung-burung tersebut akan dipindahkan ke kandang ketiga yang letaknya sangat jauh dari jangkauan pengunjung kawasan.



Bagi para pecinta fotografi, jembatan gantung bisa dijadikan salah satu spot alternatif yang amazing. Tapi jangan lupa untuk berhati-hati karena kondisi kayu jembatan yang beberapa diantaranya sudah terlihat lapuk. Setelah melewati jembatan ini, kami memasuki kawasan hutan pinus yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan berkemah. Ingat, jangan membuat api unggun di dalam hutan pinus karena bisa menyebabkan kebakaran.
Hari itu, kami menggelar 2 buah tenda dan mulai memasak untuk makan siang. Sebagian menyiangi sayuran dan daging olahan, sebagian lainnya mencari air untuk dimasak. Kamu tidak perlu khawatir kalau ingin mandi atau buang air kecil, karena di sini terdapat kamar mandi umum yang bisa digunakan sepuasnya.



Berada di tengah hutan pinus yang teduh seperti ini membuat kami merasa kembali segar. Gelak tawa dan canda kebanyakan mendominasi suasana di area tenda kami. Tak jarang pula kami berebutan hammock satu sama lain. Maklum lah namanya juga masih muda dan lajang. Hahaha.. Well, habis ini rencananya kami mau main air di Curug Cibadak yang tidak jauh dari sini. Ikuti cerita selengkapnya di sini. Wisata alam Bogor memang tak ada habisnya ya.



Catatan perjalanan:
- Sewa Angkot dari Stasiun ke Loji PP : Rp. 260,000.-
- Tiket masuk wisata : Rp. 5,000.- per orang
- Belanja logistik

Disclaimer:
Foto diambil oleh tante tersayang, Eka Bahari dan sebagian diambil dari internet.

You Might Also Like

0 comments

Blog Archive

Total Pageviews

BROUGHT TO YOU BY

BROUGHT TO YOU BY