TRAVELING - Rappelling di Curug Lembah Pelangi


Setelah puas jalan-jalan di Purwakarta, sekarang saya mau mencoba keseruan lainnya yaitu Rappelling. Mau tahu apa itu rappelling? Simak ceritanya berikut ini ya.

Kemarin kawan saya mendapati sebuah postingan menarik di Facebook seorang anggota Backpacker Jakarta. Dalam postingannya itu, ia menyebutkan bahwa ada satu lokasi baru yang seru untuk dicoba. Letaknya pun tak terlalu jauh dari stasiun Bogor, kira-kira sekitar 1 - 1,5 jam perjalanan. Dia juga menuliskan informasi narahubung operator yang menjalankan wahana ekstrem tersebut di sana.

Berbekal informasi itu, kawan saya menghubungi sang operator sambil menanyakan tentang wahana tersebut mulai dari biaya, perlengkapan sampai keamanannya. Dan akhirnya hari itu juga kami memutuskan untuk mencicipi lezatnya tantangan baru itu. Yuk, kita lanjut.


Beberapa hari kemudian tepatnya di hari Sabtu, kami jalan ke sana dengan terlebih dahulu janjian di stasiun Bogor pukul 8 pagi. Kami berangkat ke sana menggunakan kereta listrik termasuk saya. Gak perlu khawatir deh dengan ongkosnya. Terjangkau banget!

Yang bikin khawatir itu justru cuaca sekarang yang lagi sering banget turun hujan terutama di pagi dan sore hari. Teman saya selalu mengingatkan kalau hujan turun, kami gak boleh ikutan wahana ini. Dan puji Tuhan, hari itu cerah! Thank god..

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan naik angkot yang sudah kami sewa beberapa hari sebelumnya melalui telepon. Kang Ulut namanya, dia itu orangnya asik dan suka banyak cerita. Dia juga fasih sama jalanan kota Bogor beserta dengan tempat-tempat wisata lokal yang mungkin orang belum pernah dengar seperti saya ini. Sok atuh kalau mau diantarkan sama dia, cingcai lah pokoknya.


Setelah ngobrol beberapa saat di mobil, kami pun tiba di Lembah Pelangi, lokasi wahana alam yang mau kami coba. Letaknya di desa Cimanggu Satu, Kampung Jatake, Kabupaten Cibungbulan--katanya sih gak begitu jauh dari Pasar Leuwiliang. Harga tiket masuknya Rp. 4,000.- saja. Murah kannn!

Dari pintu masuk, sudah terdengar suara gemercik air yang jatuh dari ketinggian. Untuk sampai ke wahana itu hanya butuh waktu 10 menit saja menuruni beberapa anak tangga. Di tempat ini awalnya hanya ada 1 curug besar yang tingginya sekitar 80 meter. Namun, oleh pemuda sekitar desa dibuatlah 2 curug lainnya dengan cara membendung air sungai utama yang kemudian dialirkan ke beberapa titik ketinggian untuk tujuan wisata. Dan inilah asal mula adanya wahana rappelling di sini.


Rappelling sendiri merupakan sebuah teknik menuruni ketinggian dengan menggunakan tali yang diikat di atas puncak ketinggian. Pemuda di sini sudah biasa melalukan olahraga ekstrem ini untuk membersihkan tanaman liar yang tumbuh di sekitar pinggiran tebing curug. Gunanya adalah supaya tidak ada sampah yang menyangkut dan tertinggal di sana. Sungguh mulia sekali, maz.

Hari itu kami dipandu oleh komunitas Si Anak Magang yang digawangi oleh Ferdy. Dengan sabar, mereka menjelaskan dari awal mengenai perlengkapan yang kami akan pakai mulai dari tali webbing, karabiner, tali karmantel, dan helm pengaman. Kami juga dijelaskan bagaimana teknik menuruni tebingnya dan beberapa hal yang harus selalu diperhatikan saat melakukan rappelling.


Ada 2 operator yang bertugas menjaga kami yaitu di puncak dan dasar tebing. Namun, peran utama tetaplah dipegang oleh masing-masing individu. Berhubung curug ini tidak terlalu tinggi sekitar 25-30 meter, maka para pemula bisa dengan mudah mencoba teknik ini. Pertama-tama pasang kuda-kuda dengan posisi kaki tidak boleh ditekuk, jagalah agar kedua kaki tetap lurus. Lalu pegang tali belakang dengan kuat menggunakan tangan kanan, tangan kiri hanya berfungsi untuk mengatur keseimbangan saja. Setelah itu, kamu bisa mulai menuruni tebing dengan cara menurunkan tubuh terlebih dahulu ke arah bawah baru disusul dengan kaki yang melangkah ke bagian bawah. Hati-hati memilih pijakan yang tidak licin supaya tidak terpeleset dan jatuh. Waktu pertama kali mencoba ini, saya terpeleset dan terpaksa harus menghantam tembok batu yang keras itu. Huh!! (Buat pengalaman, ya kannn..)

Kami pun satu per satu turun bergantian dan tak lupa untuk foto narsis ala-ala pejuang Ninja Warrior. Ihiyyy.. Setelah itu dilanjutkan dengan makan siang seadanya yang kami beli tadi pagi di dekat stasiun Bogor. Sebelum pamit makan siang, tiba-tiba sang operator menghampiri kami dan berbisik "Kalau waktunya masih cukup, kita coba di tebing sebelah yuk. Tingginya 25 meter dan posisinya 90 derajat lho". Wow!! Kami pun sontak kegirangan.


Pada pukul 1 siang, kami lanjut ke tebing tetangga yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter saja dari lokasi pertama. Seperti yang sudah disebutkan tadi, kontur tebing ini berbeda dari bebatuan yang ada di sebelahnya. Yang ini lebih mirip tembok bangunan yang lurus dengan sedikit lubang di antaranya. Tapi buat saya, tebing ini lebih bikin deg-degan karena posisinya yang tegak lurus itu. Si operator pun menyarankan agar jarang sering-sering melihat ke bawah supaya tidak sport jantung.

Langkah awal saya menuruni tebing ini dibalut dengan rasa ragu-ragu yang hebat, sampai akhirnya saya kembali terpeleset dan nyangkut di atas bebatuan setinggi 25 meter itu. Saya rasanya mau menyerah minta tolong tapi operatornya bilang kalau saya pasti bisa kembali bangkit dan meneruskan perjalanan itu. Dan benar saja, saya akhirnya berhasil kembali ke posisi normal setelah bergelut di atas sana. Baik banget sih kamu, maz! Setelah peristiwa nyangkut itu, perjalanan saya bisa dibilang mulus sampai ke bawah. Hati saya kembali tenang setelah ketakutan hampir mau mati tadi. Huhuhu.. lebay sih tapi emang beneran takut banget tadi. Harap maklum yesss!!!


Setelah semua selesai menuruni tebing ini, masnya kembali menawarkan saya untuk mencoba lagi di lokasi ini. Lagi-lagi saya merasa senang bukan kepalang. Ya sudah bak durian runtuh, saya langsung mengiyakan dan kembali naik ke puncak melewati tangga yang dirasa kok lama-lama bikin capek yaa.. Hahaha.

Singkat cerita, rappelling ketiga saya berjalan mulus tak terkendala. Yuhuuu akhirnya bisa lulus juga seperti kawan saya lainnya yang gak pake acara terpleset segala dari awal. Ini sungguh pengalaman yang berharga buat saya. Dimana saya belajar bahwa dalam mencoba sesuatu yang baru pasti ada saja kata gagal karena banyak hal baik internal atau eksternal. Di awal, mungkin kita bisa saja merasa stuck alias nyangkut --kalau saya beneran nyangkut-- tapi begitu kita menikmati prosesnya, maka kita bisa melewati apa pun yang menurut kita tidak mungkin untuk dilewati. Kata kuncinya adalah "nikmati prosesnya", itu saja yang harus selalu kita camkan dalam menjalani tiap peristiwa dalam hidup ini supaya tidak lagi ada beban yang memberatkan. Halah.


Nah, itu tadi cerita rangkaian perjalanan saya kali ini bersama dengan teman-teman di Bogor. Ternyata banyak juga ya tempat wisata lokal yang menarik dan terjangkau untuk dikunjungi. Lain kali mampir lagi ah ke sini. Hihihi.. Oh ya, di akhir trip ini, kami menyempatkan diri untuk singgah dan menikmati bakso beranak yang ada di dekat Jembatan Cinangneng. Kata Kang Ulut, Cinangneng dalam bahasa Sunda itu artinya air sungai. Ihiyyy istilah baru lagi nih buat saya. Sampai jumpa lain waktu dan jangan lupa tonton videonya di Youtube ya..


Catatan perjalanan:
- Sewa Angkot PP dari Stasiun Bogor-Curug Lembah Pelangi : Rp. 320,000.- (dibagi 8 orang)
- Tiket masuk lokasi wisata : Rp. 4,000.-/orang
- Tiket Rappelling : Rp. 65,000.-/orang
- Bakso Beranak : Rp. 20,000.-/mangkok
- Es Jeruk : Rp. 5,000.-/gelas
- Tiket KRL PP dari Pondok Ranji-Bogor : +- Rp. 20,000.-

You Might Also Like

0 comments

Blog Archive

Total Pageviews

BROUGHT TO YOU BY

BROUGHT TO YOU BY