EVENT - Sosialisasi Ecobricks di Gunung Lembu

Sedapnya sate maranggi sepertinya selalu bisa membuat saya rindu untuk kembali ke kota ini. Rasa daging empuknya yang gurih dan terasa manis pedas ketika bertemu dengan saus kecap yang dicampur irisan cabe sukses membuat mulut saya berair. Kalau sudah begini, satu-satunya cara mengobati rasa kangennya hanyalah pergi berkunjung ke sana. Kebetulan banget ada teman yang mengajak saya untuk one day trip ke Gunung Lembu, salah satu gunung mempesona yang terkenal di kalangan pecinta alam.


Beberapa hari sebelum keberangkatan, teman saya sudah memberitahu itinerary apa saja yang akan dilakukan ketika sampai di sana. Namun ada kegalauan tersendiri buat saya karena tiba-tiba suka dapat pekerjaan di akhir pekan. Dan ternyata benar, ada sms tawaran kerja di hari itu. Hmmm.. ambil gak ya? Jadi mesti pilih nih : mau dapat uang jajan tambahan atau malah menghabiskan uang di tabungan. Hahaha.. sok dilema abis ya. Tapi akhirnya karena saking kangennya jalan-jalan sama teman ke luar kota, yaudah saya relain aja deh tawaran kerja itu. Untung masih ada sisa angpao kemarin kan, jadi masih aman lah!


Kami seharusnya berangkat jam 6 pagi hari itu tapi karena ada kawan yang suka labil antara mau ikut atau tidak, akhirnya baru bisa berangkat jam 8 pagi. Ini gara-gara saya juga sih yang telat datang ke meeting point yang telah diatur sebelumnya. Huhuhu.. sorry ya gengs.


Kami sampai di sana kira-kira pukul 11 lebih setelah melewati rentetan kemacetan dan jalan aspal mendaki yang rusak menuju ke tempat tujuan. Sebenarnya ini bukan kali pertama teman saya berkunjung ke tempat ini. Tahun lalu mereka pernah datang ke sini untuk memberikan wawasan tambahan ke sekolah dasar setempat dan melakukan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar. Mereka menamakan diri sebagai Petualang Inspiratif. Sayangnya tahun kemarin saya tidak bisa ikut kegiatan mereka karena jadwal kerja yang padat. Tetapi saya senang bisa kembali lagi ke kota ini untuk kedua kalinya.


Perbincangan awal dibuka dengan sosialisasi ecobricks atau dalam bahasa awamnya bata ramah lingkungan kepada perwakilan warga desa Gunung Lembu. Adalah seorang warga negara Kanada bernama Rusell yang memperkenalkan konsep ini kepada masyarakat dimana ia menggunakan botol minuman kemasan bekas untuk "menjebak" sampah rumah tangga yang ia miliki. Ia memasukkan sampah plastik yang telah dibersihkan ke dalam botol minuman dan memadatkannya sampai keras seperti batu bata konvensional. Minimal berat ecobricks yang disarankan adalah lebih dari 200 gram namun tidak boleh sampai merusak fisik botol tersebut. Penemuan kreatif ini nantinya bisa digunakan sebagai pengganti batu bata untuk membuat meja, kursi bahkan pondasi bangunan. Keren kan! Untuk informasi lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan ecobricks bisa lihat artikelnya di sini ya.


Kawan saya, Didie, menjelaskan langkah-langkah pembuatan eco-bricks tersebut dengan gaya santai siang itu. Kebetulan ia baru saja mengikuti pelatihan pembuatan eco-bricks di Jogjakarta beberapa minggu sebelumnya sehingga bisa dengan cekatan mempraktikkannya di depan warga Gunung Lembu.

"Saya merasa prihatin dengan jumlah sampah yang bertambah setiap hari. Saya pikir ini salah satu solusi yang bisa menjawab permasalahan tersebut. Peralatan yang digunakan untuk membuat bata ini sangat mudah dicari yaitu botol minuman bekas, sampah plastik kasar dan halus, gunting dan kayu atau bambu panjang", kata Didie sambil menggunting beberapa bungkus sampah plastik di hadapannya.



Sosialisasi mengenai pengelolaan sampah dan lingkungan pun selesai, akhirnya kami makan siang sebentar sambil bercengkrama dengan penduduk sekitar. Kebetulan warung yang kami singgahi letaknya bersebelahan dengan pos pengelola Gunung Lembu jadi kami bisa dengan mudah mengurus keperluan untuk naik gunung dan sebagainya tanpa perlu repot mencari bekal makanan.

Setelah makan, saya tengok raut wajah teman saya yang terlihat kegirangan ketika hendak membuang daun pisang bekas wadah makanan kami. Ternyata tempat sampah yang pernah mereka sumbangkan masih digunakan sampai sekarang. Bahkan mereka menyablonnya dengan logo komunitas Petualang Inspiratif. Wah!


Tak lama sesudah itu, kami pamitan kepada pengelola kawasan untuk melanjutkan kegiatan kami lainnya. Menurut saya, ini merupakan sebuah perjalanan edukatif saya yang baru setelah pernah melakukan observasi kebersihan lingkungan di Jepang dan wisata mangrove di Pulau Pari.


Duh, jadi gak sabar nih mau mencoba mendaki Gunung Parang yang ada di hadapan saya. Ups!

You Might Also Like

0 comments

Blog Archive

Total Pageviews

BROUGHT TO YOU BY

BROUGHT TO YOU BY