STORY - Persona


Kadang kala kita tidak tahu bagaimana caranya memulai sesuatu. Ada yang butuh waktu lama  memikirkan jalan terbaik supaya dapat muncul dengan sesuatu yang gemilang. Ada juga yang memberanikan diri untuk melangkah maju dengan langkah kecil yang tidak sempurna namun sambil berbenah diri. Keduanya sama-sama memiliki kelebihannya masing-masing. Asalkan jangan banyak berpikir namun tak pernah mulai melangkah.

Saya banyak merasakan hal seperti di atas~tidak tahu bagaimana cara memulai sesuatu~dan terkadang berakhir pada kondisi tidak melakukan apa-apa. Miris ya. Bukan saya tidak punya ide brilian tapi karena tidak berani melukiskan ide tersebut menjadi kenyataan. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa kita tidak perlu menjadi terlalu sempurna. Justru dengan membuat kesalahan kita dapat terus belajar, memperbaiki titik salah yang ada.

Bicara soal kesalahan, orang lain juga banyak yang menasihati kita untuk menjadi diri sendiri. Mengenali pribadi sendiri, menumbuhkannya menjadi sosok yang sesuai dengan keinginan kita sendiri. Tapi, terkadang berat juga bagi sebagian orang untuk bisa menjadi apa adanya. Terlebih lagi jika lingkungan kita masih meributkan apa itu normal atau tidak normal, sesuai syariat atau tidak, halal atau haram dan sebagainya. Apalagi kalau hidup di negara yang banyak sekali pantangannya. Seolah-olah untuk hidup di masyarakat menjadi tambah sulit.

Saya orang yang termasuk sedikit sulit untuk membaur di masyarakat. Terkadang terlalu malu untuk bisa berhadapan dengan manusia lain di luar sana. Jangankan untuk memulai percakapan, hanya menatap saja sudah bikin jantung deg-degan. Hahaha. So, sometimes I am wearing my Persona to handle it.  

Ini tentang cerita perjalanan seorang Persona. Sebuah kehidupan lain yang terbentuk karena keinginan seseorang untuk diterima dan dianggap normal dalam masyarakat dimana ia tinggal. Sebuah senyuman yang dipaksa hadir menutupi luka yang telanjur menjelma menjadi hampa. Sebuah pelarian hidup seseorang yang ingin sekali memuntahkan kekecewaannya terhadap banyak hal namun tak sanggup melakukannya. 

This is about my Persona.. my dear Valent.

*from Ingmar Bergman's movie Persona

You Might Also Like

0 comments

Blog Archive

Total Pageviews

BROUGHT TO YOU BY

BROUGHT TO YOU BY